n


Minggu, 29 Januari 2012

Pelajaran yang menyedihkan (catatan Strawberry)

Sore hari, ngga ada kerjaan iseng-iseng saja fban, nyari-nyari sesuatu browsing sana browsing sini ehh, malah kebawa kemana-mana astagfirullah, iklan fb banyak yg menyesatkan.. wkwkwkwk.. Ok masih di fb, tibalah saya di halaman Strawberry dan disana ada catatan yang subhanallah mememiliki nilai yang berharga sekali untuk kita, langsung saja berikut ini catatan tersebut tanpa pengurangan dan penambahan apapun..


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Bismillahir-Rahmanir-Rahim ... Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ”Why not the best,” katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika.

Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran.

Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ”selevel”; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.

Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ”alif” dan huruf terakhir ”ya”, jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.

Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain.

Setulusnya saya pernah bertanya, ”Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? ” Dengan sigap Rani menjawab, ”Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!” Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.

Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.

”Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.” Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.

Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini ”memahami” orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek.

Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ”malaikat kecilku”.

Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.

Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. ”Alif ingin Bunda mandikan,” ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.

Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ”Bunda, mandikan aku!” kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.

Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ”Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.” Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.

Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.

Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. ”Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,” ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ”Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?” Saya diam saja.

Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. ”Ini konsekuensi sebuah pilihan,” lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.

Tiba-tiba Rani berlutut. ”Aku ibunyaaa!” serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. ”Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..” Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::: 

hufh (menghela nafas saya), beberapa hal yang dapat kita ambil dari catatan tersebut adalah bahwa memang seorang manusia memiliki sifat dasar yang tidak bisa dipungkiri lagi yaitu tidak pernah puas, untuk menggali-gali kenikmatan kesenangan kehidupan dunia, kesana-kemari dengan kekasih pujaan hati, pacaran, juga ambisi untuk lebih, lebih, lebih terus.. Bolehlah kita memiliki sifat demikian, namun janganlah lupa kita memiliki tanggung jawab yang lain, jangan sampai kita mengabaikan orang-orang terdekat kita, orang tua kita, untuk kita seorang mahasiswa mungkin kesuksesan dalam berprestasi, tidak mempermalukan orang tua, membuat mereka bangga, cumlaude ( itu lohh kebanyakan yang saya liat di profil fb anda, twitter anda, dan apalah itu) yang masih menjadi tanggung jawab kita. Amin kita do'akan bersama-sama semoga apa yang anda tulis diprofil itu dikabulkan Allah. Jadi, jangan sampai terjebak dengan itu kawan hati-hatilah dalam menjalankan sesuatu, jangan grusa-grusu. hush. Berpikirlah dulu kita sebelum berbuat, dipikir apa akibatnya, apa resikonya, sekali-kali jangan terlena dengan kesibukan dengan kenikmatan.
Jangan sampai kisahnya seperti catatan di atas. Nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan hanyalah penyesalan. Pelajaran yang menyedihkan.

.. MEREKA LUPA BAHWA ALLAH YANG MENENTUKAN SEMUANYA. HIDUP, MATI, RIZQI, JODOH HANYA ALLAH YANG MENENTUKAN ..

rabbanaa laa tu-aakhidznaa in nasiinaa aw akhtha/naa...  
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. (Q.S. Al Baqarah : 286)

rabbanaaghfir lanaa dzunuubanaa wa-israafanaa fii amrinaa watsabbit aqdaamanaa wanshurnaa 'alaal qawmil kaafiriin...
Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. (Q.S. Ali Imran : 147)


Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya. Semoga bisa jadi renungan yang positif. :)
*catatan diambil dari Strawberry

Jumat, 27 Januari 2012

Mau kemana Anda nanti? (Lupakan Galau Yudisium)

“It doesn’t matter where you’re coming from, all that matters is where you’re going”
Saya dapat kata-kata itu ketika saya sedang cari2 tugas Pendidikan Pancasila biasalah Pak Harmanto (baca: dosen professional) nyuruh nyari artikel, trus disimpulkan. Waktu itu saya tulis keyword apa ehh yang keluar malah aneh.. aneh dan itu salah satunya, saya masuk di laman yg ada tulisannya itu, saya copy dah, buat bikin status.. hhehee.. yang ngelike lumayan.. hhehee..

Waktu itu cuman iseng sih, asal ngopi aja, tapi kok setelah saya baca saya tentang masa lalu saya. Intinya, orang yang mengirim e-mail tersebut merasa terhambat untuk menjalani kehidupan saat ini karena mereka dihantui oleh masa lalu mereka yang buruk.

Mungkin Anda juga pernah mengalaminya.

Mungkin Anda dahulu pernah melakukan suatu kesalahan yang membuat Anda sangat malu di depan umum, melakukan suatu hal yang “terlarang”, dan masa lalu lain yang mengganggu dan menghantui Anda, sampai-sampai Anda tak bisa melakukan apa yang harus Anda lakukan di saat sekarang. 
Baru tadi pagi ada teman saya namanya sebut saja A.L.A.F (hehee..:v) sms saya, senbenernya dah tadi malem sih smsnya, cuman emang saya tidur agak cepet kemarin, kecapean, jadi balesnya baru tadi pagi, kira-kira kurang lebihnya ginilah, percakapan sms kami:

A.L.A.F  : IPmu berapa bang ?
ane          : 3,52 amu berapa?
A.L.A.F  : 3,45:(

ane          : menurun?
:(
A.L.A.F  : Ia. Uda gtu jarang brgkt lg:-D
ane          : kebanyakan galau..-_-
A.L.A.F  : Bener bgt mas bang yo. Nyesel w
:(
Oke, itu tadi percakapan saya ama si A.L.A.F, sengaja ngga saya bales dan postingan ini lah balasan sms buat lu hee A.L.A.F dengerin. Dari percakapan sms tadi ada yang saya bold itu “Nyesel w:(”. Penyesalan itu emang datangnya terlambat dan disebabkan oleh masalalu ehmm ya mungkin sedikit ngga mengenakan lah.. Dalam situasi yang dialami oleh temen saya tadi, mungkin kata-kata bijak tadi bisa diterapkan.

Kata-kata bijak tadi bisa diterapkan dalam situasi seperti ini.

Tak masalah apa masa lalu Anda, apa yang penting adalah mau ke mana Anda sekarang. Masa lalu sudah lewat, dan tak akan bisa terulang lagi. Sekarang adalah saat bagi Anda untuk melangkah ke depan, menuju ke mana Anda akan pergi.

Khawatir akan masa lalu hanya akan menghambat diri kita sendiri. Begitu juga dengan khawatir akan masa depan. Apa yang perlu Anda khawatirkan sebenarnya bukan masa lalu atau masa depan, tapi hari ini.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa kita harus khawatir...lho.

Maksudnya, apa yang perlu kita fokuskan adalah hari ini, bukan masa lalu ataupun masa depan. Sebab
“Berpikir Benar, Berpikir Positif”, masa lalu sudah berlalu, dan masa depan belum datang. Kita hanya punya saat ini, “the present” atau hadiah dari Allah SWT.
Jadi buat teman saya A.L.A.F, sudahlah tidak usah bergalau-galau lagi dengan IPmu, atau dengan masalalu cintamu yang kelam (welehweleh?), sekedar info saja si A.L.A.F ini sering ngga masuk kuliah gara2 galau, patah hati, makin hati, sakit hati, hati-hati(?) dan akhirnya IP turun deh. Sudahlah lupakan, saja ayo bergerak! Hafh Hufh Hafh Hufh.. >o<

Selain masa lalu, masalah kekurangan dan keterbatasan juga bisa diterapkan untuk kata-kata bijak tadi.

Ada banyak orang yang merasa bahwa mereka tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk mewujudkan cita-cita mereka. Apakah karena latar belakang yang berasal dari keluarga kurang mampu, kekurangan dan keterbatasan fisik, karena lahir di negara miskin, dan lain-lain.

Pada dasarnya, Allah memberi semacam ujian pada semua ciptaannya. Ada yang diuji dengan kekurangan finansial, ada yang diuji dengan keterbatasan fisik, atau bahkan diuji dengan kelebihan harta, jabatan, dan lain-lain.
Jadi, ujian itu normal, ujian itu wajar.

Dan penyesalan mungkin itu juga termasuk di dalam ujian yang diberikan Allah. Mari kita renungkan firman Allah SWT dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 115-157 yang artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan, cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar…”
Sebagian dari kita mungkin mampu bersabar dan ikhlas, disaat dia menerima ujian dari Allah dengan Hal yang menyenangkan. Tapi dengan hal sebaliknya, maka kebanyakan dari kita malah begitu sult menerimanya. Sehingga galau, terpukul, bersedih hati, meratapi nasib,  merasa tidak terima dan kehilangan berat, seharusnya tidak perlu kita alami.

Sekali lagi, masalahnya bukan dari mana Anda berasal, tapi mau ke mana Anda nanti.
Mau ke mana Anda nanti?
Jangan terhalang oleh kegalauan karna dapat IP tidak sesuai dengan yang kita harapkan, masa lalu kita, maupun keterbatasan. Tetapkan tujuan atau sasaran hidup kita, dan teruslah melangkah ke depan.

Terima kasih semoga bermanfaat dan bisa menjadi renungan yang positif, yang dapat membuat kita semakin bisa lebih maju, lebih baik dari sebelumnya. :)
Posting ini terkhusus untuk teman saya yang ter- A.L.A.F dan umumnya untuk kita semuanya. Hhii..

Rabu, 25 Januari 2012

Sepucuk Surat dari Ayah dan Ibu (catatan mahasiswa)

Mengingat kejadian2 yang telah berlalu memang selalu menjadikan stimulus tersendiri bagi kita, yang akibatnya timbul suatu respon dan berbagai emosi, seperti senang, bahagia, haru dan sedih. Hal ini pula yang pernah saya rasakan ketika itu sekitar bulan apa yah, lupa tahun 2011 yang lalu pokoknya waktu itu saya dan HIMA PGSD 2011, sedang sibuk2nya mempersiapkan penerimaan mahasiswa baru yaitu ORMABA sehingga yang sebenarnya itu waktunya liburan semester, tapi kami sudah harus di kampus duluan buat rapat2 dan sebagainya. Kami sibuk dengan urusan kami masing-masing dengan tugas yang diberikan ketua panitia pada saat itu. Dan sepertinya dari semuanya tugas yang diberikan, tugas saya yang paling ngga penting (wkwkwk), beneran tugas saya cuman disuruh buat yel2, jargon ORMABA berikut gerakannya, itu pun saya males buat bikin gerakan trus saya suruh si Aini (temen cewe ane). Okelah gampang, gag perlu tapa di pinggir sungai, di tengahh sungai ataupun di dalam sungai, dalam waktu beberapa menit jadi. Siap, saya presentasikan pas rapat dan pada setuju (yeee!^^). Yel2nya saya buat meng-cover dari lagu ABG Tua saya ubah judulnya jadi ABG hampir tua *ABG=Anak Baru pGsd* hhehee.. bukan becanda. Lanjut, otomatis tugas saya abis donk, saya girang, ehh.. dikasih tugas lagi saya, lagi2 ngga penting tuh tugas (   '3'). Saya dikasih banyak video trus disuruh nyeleksi video mana yang cocok buat ditampilin pas PLK(Pengenalan Lingkungan Kampus) bagian dari kegiatan ORMABA. Disitu banyak banget videonya renungan, motivasi, profil unnes, tragedi 98 dan banyak lagi. Saya liatin satu2 tuh, sampe pegel ni mata. Sampai saya melihat satu video ini, Subhanallah.. tak terasa waktu ngliatnya air mata saya netes. Video ini berjudul "Sepucuk surat dari Ayah dan Ibu". Berikut ini saya tuliskan kata2 yang ada dalam video tersebut.

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Anakku,

Ketika aku semakin tua
aku berharap kamu memahami dan memiliki kesabaran untukku

Suatu ketika aku memecahkan piring..
atau menumpahkan sup di atas meja, karena penglihatanku berkurang
Aku harap kamu tidak memarahiku

Orang tua itu sensitif
.. selalu merasa bersalah saat kamu berteriak

Ketika pendengaranku semakin memburuk
dan aku tidak bisa mendengar apa yang kamu katakan
Aku harap kamu tidak memanggilku "Tuli!"
Mohon ulangi apa yang kamu katakan atau menuliskannya

Maaf, Anakku

... Aku semakin tua
Ketika lututku mulai lemah,
aku harap kamu memiliki kesabaran untuk membantu ku bangun

Seperti bagaimana aku selalu membantu kamu saat kamu masih kecil, untuk belajar berjalan

Aku mohon, jangan bosan dengan ku
Ketika aku terus mengulangi apa yang ku katakan, seperti kaset rusak
Aku harap kamu terus mendengarkan aku

Tolong jangan mengejekku, atau bosan mendengarkanku

Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil dan kamu ingin sebuah balon?

Kamu mengulangi apa yang kamu mau berulang-ulang sampai kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan

... Maafkan juga bauku
Tercium seperti orang yang sudah tua
Aku mohon jangan memaksaku untuk mandi..
Tubuhku lemah..

Orang tua mudah sakit karena mereka rentan terhadap dingin
Aku harap, aku tidak terlihat kotor bagimu

Apakah kamu ingat, ketika kamu masih kecil?
Aku selalu mengejar-ngejar kamu..
Karena Kamu tidak ingin mandi

Aku harap kamu bisa bersabar dengan ku, ketika aku selalu rewel

Ini semua bagian dari menjadi tua,
kamu akan mengerti ketika kamu tua

Dan jika kamu memiliki waktu luang, aku harap kita bisa berbicara
Bahkan untuk beberapa menit

Aku selalu sendiri sepanjang waktu
dan tidak memiliki seseorang pun untuk di ajak bicara

Aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaan
Bahkan jika kamu tidak tertarik pada cerita ku,
Aku mohon berikan aku waktu untuk bersamamu

Apakah kamu ingat, ketika kamu masih kecil?

Aku selalu mendengarkan apapun yang kamu ceritakan tentang mainanmu

Ketika Saatnya tiba..
dan aku hanya bisa terbaring sakit dan sakit
Aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku

Maaf
kalau aku sengaja mengompol atau membuat berantakan

Aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku
selama beberapa saat terakhir dalam hidupku

Aku mungkin, tidak akan bertahan lebih lama

Ketika waktu kematian ku datang
Aku harap kamu memegang tanganku
dan memberikanku kekuaran untuk menghadapi kematian

Janganlah sedih pada saat itu anakku
Kematian bukan hal yang menyakitkan
Dan kamu belum tahu rasa kematian seperti apa

Jika setelah itu kamu membuka lemari
Dan menemui bekas baju-bajuku..
Simpanlah..

Karna aku ingin kamu terus mengingatku..

Dan jangan khawatir..
Ketika aku bertemu dengan Sang Pencipta..
aku akan berbisik padaNya
untuk selalu memberikan BERKAH padamu

Karna kamu mencintai,
Ibu dan Ayahmu...

Terima kasih atas segala perhatianmu, nak
Kami Mencintai Mu

dengan kasih yang berlimpah,
Ibu dan Ayah

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Yah itu tadi, nangis saya terbesit mengingat wajah Ayah saya, Ibu saya, yang sedang di rumah, sedangkan saya disini, sudah 2 bulan lebih tidak pulang, pulang 3 hari harus balik lagi.. Subhanallah.. Ingin segera aku peluk mereka aku cium kaki mereka sebagai bentuk rasa cintaku pada mereka. Ya Allah Maha Besar Kau Ya Allah menciptakan dua mahkluk yang sangat berarti bagiku.. Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku belum bisa memberikan yang terbaik untukmu.. Seketika aku ambil handphone ku aku telfon mereka, aku minta maaf, belum bisa membuat mereka bahagia, belum bisa menggoreskan senyum bangga di bibir mereka. Bertambah kencang denyut jantungku ketika ibu menjawab, "jadi apa kamu, jadi siapa kamu, jadi seburuk apapun kamu di dunia ini, kamu selamanya tetap anakku."
"Robbigfirli waliwalidaya warham huma kama Robbayani shoghiro"

Terima kasih, semoga bisa jadi renungan positif dan ada manfaat di dalamnya. ;)

Pensil dan Penghapus (catatan mahasiswa)

Menjadi aktivis kampus atau seoarang organisator di kampus, mungkin suatu gengsi tersendiri, kita jadi terkenal, banyak yang kagum, dan mungkin cepet dapet gebetan (itu sih temen ane, ane kapan?). Ya mungkin demikian anggapan beberapa orang. Namun, dibalik tugas-tugas seorang organisator kampus yang begitu padat selain dengan tugas kuliahnya tapi juga tugas-tugas lainnya, bagaimana menghidupkan suasana kampus yang diharapkan semua mahasiswa, dengan kegiatan-kegiatan yang mengaktifkan mahasiswa itu sendiri. Dibalik itu semua ada resiko yang harus diterima, bahwa seorang organisator harus siap kapan pun, siap untuk jarang pulang, berkumpul dengan keluarga, ayah, ibu, kakak dan adik. Sempat terbesit pertanyaan di benak saya, "apakah yang saya lakukan ini ada manfaatnya untuk saya untuk orang tua saya?" hal tersebut membuat saya berpikir cukup lama, ditambah saat itu saya menemukan sepenggal kisah dari seorang sahabat, kisah yang didedikasikan untuk orang tua tercintanya..

Pensil : "Maafkan aku Penghapus..."

Penghapus : "Maafkan aku..??
untuk apa Pensil...??
Kamu tidak melakukan kesalahan apapun kepadaku..."

Pensil : "Aku minta maaf karena aku telah membuatmu terluka. Setiap kali aku melakukan kesalahan, kamu selalu berada disana untuk menghapusnya. Namun setiap kali kamu membuat kesalahanku lenyap, kamu kehilangan sebagian dari dirimu. Kamu akan menjadi semakin kecil dan kecil setiap saat..."

Penghapus : "Hal itu memang benar...
Namun aku sama sekali tidak merasa keberatan. Kau lihat, aku memang tercipta untuk melakukan hal itu. Diriku tercipta untuk selalu membantumu setiap saat kau melakukan kesalahan. Walaupun suatu hari, aku tahu bahwa aku akan pergi dan kau akan mengganti diriku dengan yang baru.
Aku sungguh bahagia dengan peranku. Jadi tolonglah, kau tak perlu khawatir. Aku tidak suka melihat dirimu bersedih..."


Si Penghapus adalah Orang Tua kita...
Si Pensil adalah diri kita sendiri....
Orang tua akan selalu ada untuk anak-anaknya...
Untuk memperbaiki kesalahan anak-anaknya...
Namun, terkadang, seiring berjalannya waktu...
Orang tua akan terluka dan akan menjadi semakin kecil...
(Bertambah tua dan akhirnya meninggal).

Walaupun anak-anak mereka pada akhirnya akan menemukan seseorang yang baru (Suami atau Istri),  Namun orang tua akan selalu tetap merasa bahagia atas apa yang mereka lakukan terhadap anak-anaknya dan akan selalu merasa tidak suka bila melihat buah hati tercinta mereka merasa khawatir ataupun sedih.
"Hingga saat ini...
Saya masih menjadi Si Pensil...
Hal itu sangat menyakitkan diri saya...
Melihat si penghapus atau orang tua saya semakin bertambah "Kecil" dan "Kecil" seiring berjalannya waktu.
Kelak suatu hari...
Yang tertinggal hanyalah "Serutan" si penghapus
Segala kenangan yang pernah saya lalui dan miliki bersama mereka..."

Itu yang sempat membuat saya berpikir banyak kali untuk masih bertahan atau lebih baik meninggalkan organisasi ini, agar lebih banyak waktu dengan orang tua yang merawat saya sejak kecil, bukankah ini waktunya untuk membalas budi?. Namun, tidak saya putuskan secepat itu. Saya lebih memilih untuk diskusi dengan mereka sekaligus minta saranya dan ijin. Alhamdulillah saya memiliki orang tua yang pintar, yang tahu, bahwa jalan yang saya pilih ini baik untuk saya dan akan banyak pelajaran serta manfaat yang nantinya akan saya butuhkan di kehidupan yang akan datang. Terima kasih ya Allah kau berikan aku orang tua yang luar biasa. Ada pesan yang selalu dibekalkan, "Apa pun yang kamu pilih yang itu terbaik menurutmu, lakukan, jalani, tapi ingat harus tanggung jawab dengan pilihanmu itu". Siaap Ndan!
dalam Al Qur’an surat Al Baqarah : 83 perintah ihsan (baik) pada orang tua menempati posisi kedua sesudah perintah beribadah kepada Allah atau larangan mempersekutukan Allah. Bahkan Allah meletakkan perintah terima kasih kepada orang tua setelah terima kasih kepada Allah (QS. Luqman : 14).
Tingginya kedudukan berbakti kepada orang tua menyebabkan durhaka pada orang tua termasuk dalam dosa besar kedua setelah syirik (HR. Bukhari dan Muslim).

Kesuksesan kita menjadi seorang pribadi unggul merupakan kerja keras orang tua kita dalam mencetak diri kita. Tanpa tekad dan semangat orang tua dalam membina anak-anaknya, kita ini tidak memiliki arti apapun dihadapan manusia maupun Allah.
Terima kasih semoga bisa menjadi renungan dan memiliki manfaat untuk kita. :)

Selasa, 24 Januari 2012

Teman adalah?

Pernah mungkin ada anggapan diantara kita ini, bahwa teman adalah segala-galanya, manusia ini diciptakan sebagai mahkluk sosial dimana, manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain (pelajaran SD dulu). Tapi demikian kah? Apakah sekelompok orang yang kita sebut dengan teman itu sebaik itu sehingga rela dengan segenap jiwa dan raganya merelakan waktunya yang begitu berharga untuk membantu kita disaat kita terpuruk, jatuh tak berdaya dan teman itu selalu ada disaat kita sedih. Adakah teman sejati yang seperti itu? ya mungkin ada lah, satu dua dari sekian juta mahkluk di dunia ini. Tapi mungkin anda bisa saja berubah anggapan menjadi anti-teman, setelah membaca catatan dari seseorang berikut.
Catatan ini saya dapat dari blog salah satu cewe, beberapa bulan yang lalu, sudah lama sih, tapi masih menarik sekali untuk dibaca, dan mungkin bisa menjadi renungan untuk kita. :)

banyak orang berkata bahwa teman ada selalu ada untuk kita, dia selalu menghibur kita dan selalu disamping kita saat kita bersedih dan susah.tapi kenyataan berkata lain, bahwa teman kadang hanya mengandalkan kita dan memanfaatkan kita sebagai barang yang sesudah dipakai kemudian dibuang~
kadang kita bersedih karena kehilangan SAHABAT atau teman terdekat, tapi mereka? mungkin bersuka ria atas perpisahaan ini. apa pernah kita berpikir bahwa teman itu bisa menjadi musuh dibalik selimut? yang paling berbahaya atas keselamatan kita?
dulu aku berfikir tidak semua teman begitu adanya,tapi kenyataan hari ini membuat aku mengerti bahwa teman hanyalah manusia yang memakai suatu barang, dan ketika sudah rusak kemudian dibuang begitu saja di pembuangan sampah!!! seperti layaknya SAHABAT dan PACAR~ semua itu sama saja dan tak ada bedanya, jadi untuk apa mengandalkan seorang teman. apakah kita memasuki sekolah baru, kita langsung mendapatkan teman? atau kita langsung mengenal semua yang ada disekolah itu? TIDAK! pasti semua butuh proses, dan kali ini aku tidak membutuhkan semuanya. karena terbukti yaa teman-teman ku hanyalah mengandalkan aku. kalo mereka menyontek dan aku memberikan jawabannya lalu mereka mendapatkan nilai yang bagus apakah itu suatu keuntungan untuk kita? sedangkan kita mendapatkan nilai yang tidak memuaskan. sungguh itu adalah rasa menyesal yang LUAR BIASA yang akan dirasakan tiap orang.... dan aku merasakan itu skrg
ketika aku tidak memasuki sekolah, semua pengurus kelas diubah ..... dan aku tidak tahu, apakah ada yang memberitahu aku? TIDAAAAAAAK
karena apa? karena aku tidak diperdulikan, lebih baik skrg aku fokus terhadap dunia dan pelajaran ku tanpa memperdulikan mereka. apa gunanya? toh aku yang berbuat dan tidak menguntungkan mereka, mereka berbuat toh tidak pernah menguntungkan aku. HAHA aku bersedih tapi aku pun kadang berbahagia :''')

Berbeda yah, untuk kesimpulannya itu terserah anda, mau pro atau kontra itu hak anda.. Tapi alangkah baiknya jika jalinan silaturahim itu tidak terputus. Dalam Al-Qur'an pun cukup jelas dijabarkan bahwa silaturahmi merupakan perintah kedua setelah perintah taqwa,

“Wat taqullâhal ladzîna tasâalûna bihî wal arhâm. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, yang dengan nama-Nya kamu saling memohon dan peliharalah silaturahim.” (QS. An-Nisa 1).

Beberapa ayat lain, misalnya QS. Al-Hujurat 10:
“Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah pertentangan di antara kamu dan bertaqwalah kepada Allah.
Saya jadi teringat sebuah hadist Nabi SAW yang berbunyi: ‘Barangsiapa yang senang jika dilapangkan rizkinya atau diakhirkan ajalnya, hendaknya ia menyambung tali silaturahmi’ (HR. Muslim dan HR Bukhari). Ya mungkin itu bisa menjadi tambahan ilmu bagi kita dan semoga saja banyak hikmah serta manfaat yang dapat kita ambil sebagai pelajaran untuk hidup. Terima kasih. :)