Menjadi aktivis kampus atau seoarang organisator di kampus, mungkin suatu gengsi tersendiri, kita jadi terkenal, banyak yang kagum, dan mungkin cepet dapet gebetan (itu sih temen ane, ane kapan?). Ya mungkin demikian anggapan beberapa orang. Namun, dibalik tugas-tugas seorang organisator kampus yang begitu padat selain dengan tugas kuliahnya tapi juga tugas-tugas lainnya, bagaimana menghidupkan suasana kampus yang diharapkan semua mahasiswa, dengan kegiatan-kegiatan yang mengaktifkan mahasiswa itu sendiri. Dibalik itu semua ada resiko yang harus diterima, bahwa seorang organisator harus siap kapan pun, siap untuk jarang pulang, berkumpul dengan keluarga, ayah, ibu, kakak dan adik. Sempat terbesit pertanyaan di benak saya, "apakah yang saya lakukan ini ada manfaatnya untuk saya untuk orang tua saya?" hal tersebut membuat saya berpikir cukup lama, ditambah saat itu saya menemukan sepenggal kisah dari seorang sahabat, kisah yang didedikasikan untuk orang tua tercintanya..
Pensil : "Maafkan aku Penghapus..."
Penghapus : "Maafkan aku..??
untuk apa Pensil...??
Kamu tidak melakukan kesalahan apapun kepadaku..."
Pensil : "Aku minta maaf karena aku telah membuatmu terluka. Setiap kali aku melakukan kesalahan, kamu selalu berada disana untuk menghapusnya. Namun setiap kali kamu membuat kesalahanku lenyap, kamu kehilangan sebagian dari dirimu. Kamu akan menjadi semakin kecil dan kecil setiap saat..."
Penghapus : "Hal itu memang benar...
Namun aku sama sekali tidak merasa keberatan. Kau lihat, aku memang tercipta untuk melakukan hal itu. Diriku tercipta untuk selalu membantumu setiap saat kau melakukan kesalahan. Walaupun suatu hari, aku tahu bahwa aku akan pergi dan kau akan mengganti diriku dengan yang baru.
Aku sungguh bahagia dengan peranku. Jadi tolonglah, kau tak perlu khawatir. Aku tidak suka melihat dirimu bersedih..."
Penghapus : "Maafkan aku..??
untuk apa Pensil...??
Kamu tidak melakukan kesalahan apapun kepadaku..."
Pensil : "Aku minta maaf karena aku telah membuatmu terluka. Setiap kali aku melakukan kesalahan, kamu selalu berada disana untuk menghapusnya. Namun setiap kali kamu membuat kesalahanku lenyap, kamu kehilangan sebagian dari dirimu. Kamu akan menjadi semakin kecil dan kecil setiap saat..."
Penghapus : "Hal itu memang benar...
Namun aku sama sekali tidak merasa keberatan. Kau lihat, aku memang tercipta untuk melakukan hal itu. Diriku tercipta untuk selalu membantumu setiap saat kau melakukan kesalahan. Walaupun suatu hari, aku tahu bahwa aku akan pergi dan kau akan mengganti diriku dengan yang baru.
Aku sungguh bahagia dengan peranku. Jadi tolonglah, kau tak perlu khawatir. Aku tidak suka melihat dirimu bersedih..."
Si Penghapus adalah Orang Tua kita...
Si Pensil adalah diri kita sendiri....
Orang tua akan selalu ada untuk anak-anaknya...
Untuk memperbaiki kesalahan anak-anaknya...
Namun, terkadang, seiring berjalannya waktu...
Orang tua akan terluka dan akan menjadi semakin kecil...
(Bertambah tua dan akhirnya meninggal).
Walaupun anak-anak mereka pada akhirnya akan menemukan seseorang yang baru (Suami atau Istri),
Namun orang tua akan selalu tetap merasa bahagia atas apa yang mereka
lakukan terhadap anak-anaknya dan akan selalu merasa tidak suka bila
melihat buah hati tercinta mereka merasa khawatir ataupun sedih.
"Hingga saat ini...
Saya masih menjadi Si Pensil...
Hal itu sangat menyakitkan diri saya...
Melihat si penghapus atau orang tua saya semakin bertambah "Kecil" dan "Kecil" seiring berjalannya waktu.
Kelak suatu hari...
Yang tertinggal hanyalah "Serutan" si penghapus
Segala kenangan yang pernah saya lalui dan miliki bersama mereka..."
Itu yang sempat membuat saya berpikir banyak kali untuk masih bertahan atau lebih baik meninggalkan organisasi ini, agar lebih banyak waktu dengan orang tua yang merawat saya sejak kecil, bukankah ini waktunya untuk membalas budi?. Namun, tidak saya putuskan secepat itu. Saya lebih memilih untuk diskusi dengan mereka sekaligus minta saranya dan ijin. Alhamdulillah saya memiliki orang tua yang pintar, yang tahu, bahwa jalan yang saya pilih ini baik untuk saya dan akan banyak pelajaran serta manfaat yang nantinya akan saya butuhkan di kehidupan yang akan datang. Terima kasih ya Allah kau berikan aku orang tua yang luar biasa. Ada pesan yang selalu dibekalkan, "Apa pun yang kamu pilih yang itu terbaik menurutmu, lakukan, jalani, tapi ingat harus tanggung jawab dengan pilihanmu itu". Siaap Ndan!
dalam Al Qur’an surat Al Baqarah : 83 perintah ihsan (baik) pada
orang tua menempati posisi kedua sesudah perintah beribadah kepada
Allah atau larangan mempersekutukan Allah. Bahkan Allah meletakkan
perintah terima kasih kepada orang tua setelah terima kasih kepada
Allah (QS. Luqman : 14).
Tingginya kedudukan berbakti kepada
orang tua menyebabkan durhaka pada orang tua termasuk dalam dosa besar
kedua setelah syirik (HR. Bukhari dan Muslim).
Kesuksesan kita menjadi seorang pribadi unggul merupakan kerja keras
orang tua kita dalam mencetak diri kita. Tanpa tekad dan semangat orang
tua dalam membina anak-anaknya, kita ini tidak memiliki arti apapun
dihadapan manusia maupun Allah.
Terima kasih semoga bisa menjadi renungan dan memiliki manfaat untuk kita. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar